Rabu, 20 April 2011

Makna dan Relevansi Kegiatan sehari-hari Sang Buddha dengan kehidupan sekarang

Jadwal Kegiatan sehari-hari Sang Buddha

Sehubungan dengan tugas-tugas Buddha, Komentar Samyutta Nikāya dan sumber lainnya menyebutkan 5 rangkaian sedangkan Komentar Sutta Nipāta menyebutkan hanya 2, menggabungkan 4 yang terakhir menjadi 1, yaitu, rangkaian tugas pagi hari dan rangkaian tugas setelah makan. Namun demikian, intinya tetap sama. Dalam RAPB 2, hal. 1396-1402(catatan tidak ada jam)


Selama empat puluh lima tahun Sang Bhagavā membabarkan Dhamma dengan semangat. Dan setiap hari Ia melakukan kegiatan rutin-Nya tanpa mengenal jenuh.

Kegiatan harian yang dilakukan Sang Bhagava bisa dibagi ke dalam lima sesi, yaitu:

1. kegiatan pagi (purebhatta kicca),

2. kegiatan siang (pacchābhatta kicca),

3. kegiatan waktu jaga pertama malam (purimayāma kicca),

4. kegiatan waktu jaga pertengahan malam (majjhimayāma kicca), dan

5. kegiatan waktu jaga terakhir malam (pacchimayāma kicca).

Kegiatan Pagi (sekitar pukul 04.00 – 12.00)
Sang Bhagava bangun pukul 04.00, kemudian setelah mandi Ia bermeditasi selama satu jam. Setelah itu pada pukul 05.00, Beliau memindai dunia dengan Mata Buddha-Nya untuk melihat siapa yang bisa Ia bantu. Pukul 06.00, Sang Bhagava menata jubah bawah, mengencangkan ikat pinggang, mengenakan jubah atas, membawa mangkuk dana-Nya, lalu pergi menuju ke desa terdekat untuk menerima dana makanan. Terkadang Sang Bhagava melakukan perjalanan untuk menuntun beberapa orang ke jalan yang benar dengan kebijaksanaan-Nya. Setelah menyelesaikan makan sebelum tengah hari, Sang Bhagava akan membabarkan khotbah singkat; Ia akan mengukuhkan sebagian pendengar dalam Tiga Pernaungan. Kadang Ia memberikan penahbisan bagi mereka yang ingin memasuki Persamu
han.



Kegiatan Siang (sekitar pukul 12.00 – 18.00)
Pada waktu ini, biasanya digunakan oleh Sang Bhagava untuk memberikan petunjuk kepada para bhikkhu dan untuk menjawab pertanyaan dari para bhikkhu. Setelah itu Sang Bhagava akan kembali ke bilik-Nya untuk beristirahat dan memindai seisi dunia untuk melihat siapa yang memerlukan pertolongan-Nya. Lalu, menjelang senja, Sang Bhagava menerima para penduduk kota dan desa setempat di aula pembabaran serta membabarkan khotbah kepada mereka. Saat Sang Bhagava membabarkan Dhamma, masing-masing pendengar, walaupun memiliki perangai yang berlainan, berpikir bahwa khotbah Sang Bhagava ditujukan secara khusus kepada dirinya. Demikianlah cara Sang Bhagava membabarkan Dhamma, yang sesuai dengan waktu dan keadaannya. Ajaran luhur dari Sang Bhagava terasa menarik, baik bagi khalayak ramai maupun kaum cendekia.

Kegiatan Waktu Jaga Pertama Malam (sekitar pukul 18.00 – 22.00)
Setelah para umat awam pulang, Sang Bhagava bangkit dari duduk-Nya pergi mandi. Setelah mandi, Sang Bhagava mengenakan jubah-Nya dengan baik dan berdiam sejenak seorang diri di bilik-Nya. Sementara itu, para bhikkhu akan datang dari tempat berdiamnya masing-masing dan berkmpul untuk memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava. Kali ini, para bhikkhu bebas mendekati Sang Bhagava untuk menghilangkan keraguan mereka, ntuk meminta nasihat-Nya mengenai kepelikan Dhamma, untuk mendapatkan objek meditasi yang sesuai, dan untuk mendengarkan ajaran-Nya.

Kegiatan Waktu Jaga Pertengahan Malam (sekitar pukul 22.00 – 02.00)
Rentang waktu ini disediakan khusus bagi para makhluk surgawi seperti para dewa dan brahma dari sepuluh ribu tata dunia. Mereka mendekati Sang Bhagava untuk bertanya mengenai Dhamma yang selama ini tengah mereka pikirkan. Sang Bhagava melewatkan tengah malam itu sepenuhnya untuk menyelesaikan semua masalah dan kebingungan mereka.





Kegiatan Waktu Jaga Terakhir Malam (sekitar pukul 02.00 – 04.00)
Rentang waktu ini dipergunakan sepenuhnya untuk Sang Bhagava sendiri. Pukul 02.00 sampai 03.00, Sang Bhagava berjalan-jalan untk mengurangi penat tubuh-Nya yang menjadi kaku karena duduk sejak fajar. Pukul 03.00 sampai 04.00, dengan perhatian murni, Ia tidur di sisi kanan-Nya di dalam Bilik Harum-Nya.
Terus selanjutnya untuk hari berikutnya berulang lagi sampai hati terakhirnya.

Demikianlah kegiatan harian yang dilakukan oleh Sang Bhagava, yang Ia lakukan sepanjang hidup-Nya.



Jawaban mengenai makna peristiwa dan relevansi antara kegiatan keseharian Buddha dengan kehidupan sekarang

Makna :  Menurut ajaran Buddha terlahirnya kita sebagai manusia merupakan hal yang sangat membahagiakan. Itu berarti kita mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan benar agar dapat memutuskan roda samsara. Kita menyadari bahwa keberadaan kita sebagai manusia merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan baik kita. Kita juga tahu bahwa setiap perbuatan (kamma) mempunyai efek-efek yang saling bertalian. Berikut diberikan beberapa bentuk kehidupan yang tidak menguntungkan ada Delapan kehidupan yang tidak beruntung adalah:

(1).    Kehidupan di alam yang terus-menerus mengalami penderitaan (Niraya); ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena mengalami penderitaan dan siksaan terus-menerus.

(2).  Kehidupan di alam binatang; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini selalu ketakutan sehingga tidak dapat melakukan kebajikan dan tidak dalam posisi yang dapat mengenali kebajikan dan kejahatan.

(3).   Kehidupan di alam peta; ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat melakukan kebajikan karena selalu merasakan kepanasan dan kekeringan, dan menderita kelaparan dan kehausan terus-menerus.

(4).  Kehidupan di alam brahmà yang tidak memiliki kesadaran (asaῆῆāsatta-bhūmi): ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di alam ini tidak dapat mendengarkan Dhamma karena tidak memiliki indra pendengaran.

(5).  Kehidupan di wilayah seberang dunia: ini tidak menguntungkan karena makhluk-makhluk di wilayah tersebut tidak dapat dikunjungi oleh para bhikkhu, bhikkhunã, dan siswa-siswa Buddha lainnya; ini adalah tempat bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah; makhluk-makhluk di sana tidak dapat mendengarkan Dhamma meskipun mereka memiliki indra pendengaran

(6). Kehidupan di mana seseorang menganut pandangan salah: ini tidak menguntungkan karena seseorang yang menganut pandangan salah tidak dapat mendengar dan mempraktikkan Dhamma meskipun ia hidup di Wilayah Tengah tempat munculnya Buddha dan gema Dhamma Buddha berkumandang di seluruh negeri tersebut.

(7).  Terlahir dengan indra yang cacat: ini tidak menguntungkan karena sebagai akibat perbuatan buruk yang dilakukan dikehidupan lampaunya, kesadaran kelahirannya tidak memiliki tiga akar yang baik, yaitu: ketidakserakahan, ketidakbencian, dan ketidakbodohan (ahetuka-patisandhika); oleh karena itu ia memiliki indra yang cacat seperti penglihatan, pendengaran, dan lain-lain. Dan dengan demikian tidak dapat melihat seorang Buddha dan mendengarkan ajarannya atau mempraktikkan Dhamma yang diajarkan meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah dan tidak menganut pendangan salah.

(8).   Kehidupan di mana tidak ada kemunculan Buddha: ini tidak menguntungkan karena pada saat itu seseorang tidak dapat berusaha mempraktikkan Tiga Latihan moralitas (sīla), konsentrasi pikiran (samādhi), dan kebijaksanaan (paῆῆā) meskipun ia terlahir di Wilayah Tengah, memiliki indra yang baik dan menganut pandangan benar yaitu percaya akan hukum kamma.



Tidak seperti delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhaa), ada kehidupan kesembilan yang menguntungkan yang disebut Buddh’uppāda-navamakkhana karena dalam kehidupan ini, muncul seorang Buddha. Terlahir dalam waktu demikian dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar memungkinkan seseorang untuk berusaha mempraktikkan Dhamma yang diajarkan Buddha. Kehidupan ke sembilan ini, di mana muncul seorang Buddha (Buddh’uppāda-navamakkhana) meliputi seumur hidup Buddha sejak ia mengajarkan Dhamma dan selama ajarannya tumbuh berkembang dengan subur.



Dengan mengetahui hal ini maka sebagai umat Buddha sekarang ini yang terlahir sebagai manusia dengan indra yang baik dan menganut pandangan benar hidup selagi Buddhadhamma masih berkembang, kita telah bertemu dengan kesempatan yang sangat jarang Buddh’uppàda-navamakkhana. Terlepas dari kesempatan yang membahagiakan ini, jika mereka mengabaikan kebajikan mempraktikkan latihan moralitas (sīla), konsentrasi pikiran (samādhi), dan kebijaksanaan (paῆῆā), mereka akan melewatkan kesempatan emas. Kesempatan untuk terlahir dalam delapan kehidupan yang tidak menguntungkan ini (akkhaa) adalah sangat besar, sedangkan kesempatan terlahir pada masa berkembangnya ajaran Buddha adalah sangat kecil. Hanya sekali dalam sejumlah tidak terhitung banyaknya kappa yang sangat lama sekali seorang Buddha muncul dan kesempatan Buddh’uppàda-navamakkhana bagi mereka yang beruntung adalah sangat sulit diperoleh.

Umat Buddha yang baik sekarang ini memiliki dua berkah: pertama adalah berkah karena terlahir pada masa ajaran Buddha sedang berkembang di dunia, yang sangat jarang terjadi, dan berkah lainnya adalah terlahir sebagai manusia yang memiliki pandangan benar. Dalam kesempatan yang sangat menguntungkan Buddh’uppàda-navamakkhana ini, mereka harus merenungkan dengan sunguh-sungguh, “Bagaimanakah kita dapat mengetahui ajaran Buddha? Kita tidak boleh melewatkan kesempatan emas Buddh’uppàda-navamakkhana ini. Jika terlewatkan, kita akan menderita dalam waktu yang lama di empat alam sengsara.”

Dengan memahami hal ini, sebagai makhluk yang beruntung yang telah bertemu dengan Buddh’uppàda-navamakkhana, suatu kesempatan yang sangat jarang terjadi ini, kita harus berusaha mengembangkan tiga kebajikan mulia sīla, samādhi, dan paῆῆā, yang diajarkan oleh Buddha sampai tercapainya Kearahattaan.



Relevansi

Dalam perjalanan pembabaran dhamma yang dilakukan oleh sang Buddha sungguh sangat luar biasa, mengapa dikatakan demikian karena  tidak ada sedikit pun terdengar atau tertulis kata lelah, memang setelah mencapai pencerahan dan menjadi seorang Buddha maka selanjutnya adalah menjalankan tugas sebagai seorang Buddha yang disebut Buddha Kicca (berdasarkan kegiatan sehari-hari Sang Buddha), dalam hal yang bisa kita jadikan contoh serta masih dapat dilihat relevansi yaitu mengenai :

Kepandaian, hal ini tidak bisa kita pungkiri karena sebelum mencapai pencerahan pun guru agung kita memang memiliki kemaapuan belajar yang luar biasa, dan sekarang kita sebagai umat Buddha sudah seharusnya mengikuti jejak guru kita jelas kepandaian yang dimiliki itu bukan datang begitu saja, guru agung kita pun belajar, jadi kita pun harus belajar dengan harapan bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi mahluk lain.

Menajemen waktu, untuk hal ini dapat dirasakan bagaimana jadwal Sang Buddha sungguh sangat padat istirahat hanya satu jam saja, bagaimana dengan kita sebagai Buddhis? Jelas dengan mengetahui kegiatan keseharian Sang Buddha kita sebagai umat Buddha sudah seharusnya bisa mengatur waktu sedemikian rupa agar semua dapat terlaksana terutama dalam hal berbagi dengan yang lain.

Semangat, sudah tidak dapat diragukan lagi bahwa sang Buddha selalu bersemangat dalam membabarkan dhamma dari bangun pagi sampai pada malam hari senantiasa memberikan pengetahuan kepada para pendengarnya, dalam kehidupan sekarang bila kita dapat mengikuti langkah ini akan tetapi tidak sepenuhnya sama terutama dalam dalam pembagian waktu dimana sebagian waktu bisa kita gunakan untuk berbagi dengan yang lain, membantu yang lain dalam hal pengetahuan dhamma, juga untuk diri kita sendiri, dalam hal bekerja kita sebagai pekerja sudah tentu membutuhkan semangat karena jelas sebagai manusia pasti mengalami yang namanya kejenuhan dalam melewati keseharian, dengan memahami semangat yang ada pada diri guru kita maka bisa dijadikan acuan bahwa kita juga sebagai umatnya harus bisa menunjukkan bahwa semangat yang ada pada guru kita juga ada pada kita, sehingga hari-hari yang kita lalui akan penuh dengan makna karena selalu diisi dengan semangat terutama semangat-semangat yang baru.

Kesabaran, Salah satu pesan yang sangat penting yang pernah diungkapkan oleh Buddha dihadapan 1250 orang-orang suci adalah kesabaran sesungguhnya latihan untuk membina diri yang tertinggi. Kalau kita berhadapan atau mengalami keadaan yang menyenangkan disekitar kita, semua bersikap baik, berkata-kata ramah kepada kita, maka kita bisa bersikap sabar. Tetapi menurut Buddha , menghadapi hal-hal yang menyenangkan bukanlah sikap bersabar. Justru kesabaran adalah sikap yang tetap tenang, dilandasi dengan pengertian yang benar, pada saat kita menghadapi atau mengalami kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan. Orang-orang lain atau teman-teman yang berperilaku tidak baik kepada kita, pada saat itulah sesungguhnya kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk melatih kesabaran. Dengan mamahami bahwa kesabaran ini merupakan dasar latihan tertinggi maka senantiasa kita sabagai umat Buddha harus mengingat hal ini sebagai sebuah hal yang baik.

Kasih sayang, dalam hal ini sangat jelas Buddha tidak pernah membeda-bedakan umatnya dengan berbagai macam kelompok ini semua didasari atas rasa kasih sayangnya kepada kita semua saat ini yang sedang belajar mengenai ajaranNya, kasih sayang yang ditunjukkan oleh guru kita merupakan kasih sayang sangat universal, dari sini dapat kita tarik sebuah relevansi dengan keseharian kita bagimana kita bisa menerapkan hal ini dalam wujud yang nyata, tidak hanya secara teori bahwa berbuat baik itu penting, akan tetapi kita benar-benar melakukan secara sadar dan penuh dengan kebajikan inilah yang dinamakan berpraktik sesungguhnya. Dari bangun tidur sudah bertekad “semoga hari ini saya bisa berbuat kebajikan dengan penuh kesadaran dan senantiasa melimpahkan jasa kebajikan kepada semua mahluk”.   

Metode mengajar yang efektif dan efisen,  ini yang perlu kita pelajari terutama dari sisi teknik karena guru kita ini memiliki cara yang sangat baik dalam memberikan pengertian kepada para pendengarnya, relevansi di dalam kehidupan kita sekarang hendaknya kita juga bisa mengikuti cara-cara yang dipakai oleh sang Buddha dalam menjelaskan sesuatu baik itu mengenai pakerjaan bila kita memiliki bawahan, atau mengenai hal yang berhubungan dengan keluarga bagaimana cara kita mengajar anak-anak kita agar mereka bisa menerima pengalaman kita sebagai orang tua menjadi materi belajar untuk mereka, bisa juga antar teman baik itu teman sekerja atau teman di lingkungan kita tinggal, semua hal yang efisien dan efektif ini perlu kita kembangkan terus sehingga banyak hal yang bisa kita capai dengan cara yang tepat dan waktu yang singkat.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar